Pages

Selasa, 17 April 2012

Feature: Makna Hidup Mbah Nur

Makna Hidup Mbah Nur

“Justru sapi-sapi ini saya siapkan buat tabungan anak-anak,” ungkapnya tersenyum.
Panasnya terik matahari tak menghalangi niatnya untuk berjalan bermeter-meter dari rumah. Peluh bercucuran membawa beban berat di pundaknya. Derap langkah kakinya melambat setelah melewati tanjakan jalan kecil berbatu. Namun beratnya langkah itu tak nampak sedikitpun dari raut wajahnya yang keriput. Dia masih sempat tersenyum ramah bila berpapasan dengan siapapun.
Bade teng pundi mbah nur?” tanya salah seorang ibu.
Ajeng setor mbak,” jawabnya tersenyum.  
Mbah Nur, itulah panggilan akrabnya di Dusun Boyong, kecamatan pakem harogobinangun, sleman yogyakarta. Pekerjaan mbah sehari-hari adalah beternak sapi perah yang memang menjadi sumber mata pencaharian utama warga Dusun Boyong. Asal mulanya Mbah Nur beternak sapi daging. Namun sejak awal 1990 mbah mulai beralih ke ternak sapi perah karena memang lebih menguntungkan dan sesuai dengan iklim Dusun Boyong yang sejuk terletak di kawasan pegunungan.
Siang itu seperti biasa mbah memikul wadah susu terbuat dari alumunium yang menampung 10 liter susunya.
Niki mboten begitu berat, udah biasa,” jawab mbah dengan senyum.
Sesampainya di koperasi kemudian petugas menghitung literan hasil susunya. Koperasi yang bernama “ Koperasi Sedia Makmur” ini adalah tempat pengumpulan susu warga di RT Mbah Nur. Koperasinya kecil berukuran 5x5 meter. Sepintas tempat ini seperti pos ronda yang biasanya ada di gang-gang kampung. Warna cat putih mendominasi bangunan. Hanya dua tiang kecil di depan teras yang memiliki warna berbeda. Nampaknya dulu tiang itu berwarna biru namun warnanya mulai memudar digantikan dengan warna aslinya yaitu coklat kayu. Genting pun mulanya berwarna coklat telah berubah warna menjadi hijau karena lumut.
Sepintas tak ada yang istimewa dari tempat ini. Akan tetapi bagi masayarakat Dusun Boyong tempatt ini sangat berarti. Tempat inilah yang menjadi tempat mereka untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Dua wadah susu berukuran raksasa dipajang di teras koperasi.Wadah itulah yang menjadi penampung susu-susu warga sebelum nantinya dijual kembali ke berbagai distributor susu. Memang begitulah peraturannya, warga tidak diperbolehkan menjual hasil ternaknya sendiri. Hal ini merupakan kebijakan dari pemerintah untuk mencegah terjadinya variatifnya harga di pasaran dan juga untuk memudahkan pemasaran. Koperasi mengambil sepertiga dari hasil penjualan susu yang kemudian dana itu digunakan untuk membayar cicilan sapi-sapi yang telah dikredit warga. Selain sebagai tempat penyetoran susu, koperasi juga menyedikan berbagai keprluan untuk ternak mereka. Misalnya pakan ternak yang merupakan makanan tambahan ternak selain rumput atau obat-obatan untuk hewan ternak mereka.
Selain mbah, sudah banyak warga lain yang menuggu giliran untuk menyetorkan hasil susunya. Entah enam atau delapan orang yang jelas mereka adalah ibu-ibu perkasa yang memiliki tenaga ekstra. Senyum ramah dan gurauan-gurauan ringan mengisi sela-sela waktu mereka menunggu. Suasana makin akrab, tawa ringan menyegarkan suasana siang yang terik ini. Mbah Nur pun ikut larut dalam tawa lepas.
Setelah menunggu akhirnya tiba giliran mbah dan  petugas mulai menghitung hasil susunya. Setelah ditimbang ternyata hasil susu bukan 10 liter sesuai perkiraan mbah melainkan hanya 8 liter, “Alhamdulilah lumayan,”ungkap mbah penuh syukur meskipun ada sedikit raut wajah kecewa di wajahnya.
Kemudian mbah mengambil pakan ternak dari koperasi dengan sistem hutang yang dibayar jika hasil susunya telah berhasil dijual. Berat karung itu satu kuintal tertera di muka karung. Meskipun berat namun pelan-pelan mbah berusaha memikul karung itu di pundaknya.
“Biasanya jalan gak pelan koyok ngene nduk. Ini gara-gara keseleo belum sembuh,” katanya sembari tersenyum. 
Mbah Nur sudah terbiasa bekerja dengan beban berat semenjak kecil. Hal seperti ini tak masalah baginya. Dia menganggap hal ini masih sangatlah biasa. Setiap pagi Mbah merumput untuk keempat ekor sapinya. Sehingga merumput bisa dilakukannya tiga hingga empat kali setiap pagi.  Jika keadaan tak memungkinkan untuk bekerja berat, putranya paling bungsu akan menggantikan pekerjaannya. Mbah Nur memiliki dua orang putra, yang pertama telah berkeluarga dan tinggal masih di wilayah Dusun Boyong. Sedangkan putranya yang kedua pengangguran dan bekerja apabila ada panggilan untuk kuli bangunan saja.
Mbah Nur tahu bahwa beban anak-anaknya juga tak kalah berat sehingga dia tidak mau menambah beban hidup anak-anaknya. Sebisa mungkin di usianya yang menginjak usia 60 tahun ini dia tidak mau hidup bergantung pada kedua anakanya.
“Justru sapi-sapi ini saya siapkan buat tabungan anak-anak,” ungkapnya tersenyum.
Dia kembali melanjutkan perjalanan. Pelan, kondisi kaki kanan Mbah Nur dalam keadaan tidak stabil. Setelah ± 15 menit perjalanan tibalah mbah di “istananya”. Beban berat makanan sapi yang sudah dia rengkuh beberapa menit tak mampu ditahannya lagi. Tergopoh-gopoh sampai di teras rumah mbah memanggil-manggil nama anaknya.
“Nang, nang,” dipanggilnya berkali-kali.
Pintu dibuka lelaki setengah baya dengan sigap menolong mbah. Disusul sambutan sang istri yang tersenyum menyambut kedatangan mbah.
Rumah itu bergaya joglo jawa sederhana. Lantai masih beralaskan tanah. Ruangan terdiri dari dua bagian yakni pendapa dan dalam. Bagian pendapa rumah mbah dibiarkan ruangan luas tanpa sekat. Ruang inilah yang dijadikan mbah sebagai ruang santai keluarga.
Melepas lelah, mbah duduk di bibir lincak. Dikuti dengan mbah putri yang ikut duduk sebelah mbah setelah menyiapkan teh sebagai pelepas dahaga. Ingatan mbah kemudian mengawang-ngawang di tragedi satu tahun silam. Dimana dulu dia dan sekeluarga  beradu nyawa dengan alam. Menurut mbah itulah kejadian maha dahsyat yang pertama dia alami.
“Sampai umur setua ini, baru itu saya ngerti kejadian itu nduk,”
Dusun Mbah Nur terbilang rawan bencana merapi. Sekitar 5 km dari puncak merapi. Sehingga Dusun Boyong ini mendapat peringatan awas sejak dini dan warga desa diharuskan untuk mengungsi demi keselamatan. Sebelum mbah mengungsi memang hujan abu hampir setiap hari mengguyur Dusun Boyong. Malam tanggal 5 November mbah mengungsi dan hanya mampu membawa barang-barang seadanya. Warga desa lainnya pun begitu, sapi dan hewan ternak lainnya yang sebagai penghidupan utama mereka dibiarkan saja di kandang. Karena memang situasi yang tak mendukung saat itu. Hal yang dipikirkan mbah saat itu hanyalah keselamatan dia dan keluaraga. Abu telah menghujani dusun. Dia dan keluarga lari menaiki truk yang telah disipkan pemerintah.
“Yang penting nyawa nduk,” tandasnya.
Meskipun begitu di pengungsian Mbah Nur masih memikirkan nasib sapi-sapinya. Dia merasa kasihan karena meskipun hanya sebagai hewan ternak, sapi-sapinyalah menjadi sumber penghidupan dia dan keluarganya.
“Akhirnya mbah harus main kucing-kucingan (istilah mbah untuk sembunyi-sembunyi) dengan polisi,”
            Mbah harus sembunyi-sembunyi merumput untuk memberi makan sapi-sapinya. Uang transportasi untuk memebli bensin motor yang mbah gunakan untuk kembali ke rumah nyaris tidak ada. Karena memang keuangan mbah sangatlah pas-pasan sehingga untuk memperoleh uang saat itu mbah menjual kelapa yang dia peroleh dari bantuan warga.
Setahun lebih telah berlalu bencana merapi. Menurut mbah itu adalah bencana maha dahsyat yang memiliki segudang pelajaran baginya. Karena bencana itu mbah lebih mendekatkan diri dengan pencipta alam semesta untuk lebih memaknai hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar